apakah ada kriteria sempurna dalam desain?

February 12, 2017

 

 

Sebenarnya pertanyaan ini sangat mengganggu saya sejak memulai perkuliahan arsitektur yang sangat sarat dengan desain. bagi para desainer sering sekali kita merasa bahwa "the glass is always half empty", bahwa ada sebuah stigma khas yaitu "there is always a room for improvement for it". Lantas, dimanakah akhirnya kita menyebut kata 'cukup' untuk sebuah desain? teringat sebuah kalimat menarik dari Antoine de Saint-Exupéry (1900-1944) dimana beliau menyampaikan bahwa kesempurnaan sebuah desain itu dicapai bukan ketika tidak ada lagi elemen untuk ditambahkan, melainkan ketika tidak ada lagi elemen yang dapat dikurangi.

 

Saya menyimpulkan sempurna menurut versi beliau bahwa ketika seluruh elemen 'aksesoris' yang tidak diperlukan dalam sebuah desain telah seluruhnya dibuang, maka itulah sempurna. "Exactly what it is designed for, nothing more and nothing less" atau tepat untuk apa dia didesain, tak lebih maupun kurang, namun, apakah sebuah pensil cukup dikatakan telah didesain sempurna apabila ia dapat menorehkan sesuatu pada kertas? apakah sebuah kursi sempurna ketika ia telah memenuhi fungsinya sebagai tempat duduk?apakah sebuah baju telah sempurna ketika ia bisa menyelubungi tubuh kita tanpa ada (misalnya) motif batik dan pola-pola sejenisnya yang tanpa pola tersebut ia masih bisa berfungsi sebagai baju, bukan?

 

 

Fransworth House (1951)

Ludwig Mies van der Rohe

 

Fransworth house, sebuah rumah yang didesain Van Der Rohe, seorang arsitek yang menganut prinsip LESS IS MORE. Sebagai sebuah rumah, Fransworth house telah memenuhi fungsinya sebagai tempat bernaung. seluruh elemen yang ada murni mendukung fungsi primer dari dirinya, kolom sebagai struktur, kaca sebagai bidang pemisah ruang transparan, dan atap untuk berteduh. apabila ada satu elemen saja dikurangi maka ia bukanlah lagi berdiri sebagai fransworth house. Tidak ada elemen 'centil' semiotik atau metafora yang tidak dibutuhkan melekat pada entitasnya.

 

 

 

kalau begitu, bukankah semua desain sempurna ketika ia mengikuti intensi untuk mendukung fungsinya?

 

atau kita kenal dengan

 

"Form Follow Function"

 

saya sangat setuju

 

MOTORIK ATAU VISUAL, FUNGSIONAL ATAU ESTETIK? 

 

Tapi disinilah analisis kritis lebih lanjut dari form follow function tersebut. membedah kata Fungsi sendiri, dari contoh-contoh diatas yang saya sebutkan merupakan desain yang berfokus pada fungsi motorik dimana ia sangat membutuhkan keakuratan ergonomis, menulis, duduk, uniform, dan bernaung. sering sekali kita (saya) sebagai desainer mengabaikan dan bahwa adanya fungsi-fungsi lain diluar fungsi yang bersifat motorik, fungsi-fungsi lain yang tidak taktil melainkan fungsi yang diterima oleh reseptor lain kita sebagai manusia, dalam kesempatan ini saya akan membahas khusus mengenai fungsi yang berkaitan dengan reseptor visual kita, mata.

 

sebuah stigma ironis lainnya muncul  ketika seorang desainer mengolah elemen-elemen visual tersebut disalahartikan dengan sindiran bahwa ia sedang membuat 'gimmick' atau yang didefinisikan sebagai "a trick or device intended to attract attention". disini saya punya pendapat berbeda, terkadang elemen-elemen yang sering disalahartikan tersebut ternyata memiliki fungsi penting yang hanya bisa ditangkap oleh reseptor visual kita.

 

 

 kalkulasi matematis > perspepsi visual?

 

 

Beberapa dari kita menyadari adanya fenomena pada gambar lingkaran diatas, dimana ada sebuah tendensi sang lingkaran berusaha untuk terus bergerak ke arah kanan, dan ada sebuah 'saran' dari pikiran kita yang berpendapat bahwa, "bukankah seharusnya lingkaran itu berada ditengah?" ketidakseimbangan ini menimbulkan sebuah gangguan pada respon kita yang diterima oleh indera visual. cukup banyak faktor yang mempengaruhi kesadaran respon visual seseorang seperti frekeunesi warna, skala, proporsi, hirarki, tatanan ataupun formasi. 

 

Steven Holl dalam bukunya Parallax mengungkapkan bahwa seluruh perhitungan matematis dalam mendesain ruang tidak lagi menjadi penting ketika dihadapkan pada pengalaman visual seseorang dalam ruangan itu sendiri, sensasi penikmat muncul dari ilusi dan perspepsi perspektifnya bukan dari jarak nyata dan kalkulasi matematis di fase perencanaan ruang tersebut. 

 

ketika intensi sebuah desain sudah sesuai dengan visi 'sempurna' dari sang desainer dan kemudian ditorehkan diatas gambar rencana atau media yang statis, seringkali pada realisasinya berbenturan dengan berbagai ketidaktepatan pelaksanaan yang dinamis, pada akhirnya menjadi sebuah hal yang lumrah bahwa kecacatan tersebut harus ditoleransi dan dikompromi, Kalkulasi matematis yang direncanakan dan terhitung dengan baik, dimana kalkulasi tersebut diharapkan menjadi salah satu upaya dalam meminimalisir gangguan-gangguan yang mungkin timbul justru telah gagal memenuhi perannya. . contoh sederhana gambar lingkaran diatas merupakan sebuah ilustrasi dimana sang lingkaran berfungsi sebagai sebuah titik fokus tengah justru pada entitasnya menjadi gangguan visual karena ketidaktepatan posisinya.

 

saya coba menyimpulkan bahwa sesungguhnya ada 2 takaran kesempurnaan desain sejauh pembahasan ini berlangsung, pertama kesempurnaan yang bersifat fungsional yang dialami oleh respon motorik dan kedua, ada kesempurnaan yang bersifat estetik yang dialami oleh respon visual dimana kedua kesempurnaan tersebut muncul karena didukung oleh sebuah kalkulasi matematis dibelakangnya. kalau saya coba ibaratkan, kalkulasi matematis tadi diibaratkan seperti seorang penyusun lagu, namun pada akhirnya penonton lebih tertarik dengan sang penyanyi yang mungkin sebenarnya buta dengan tangga nada.

 

 

KESEMPURNAAN DESAIN

1. ELEMEN YANG ADA TEPAT DENGAN FUNGSINYA, FUNGSI TAKTIL MAUPUN VISUAL

2. ELEMEN YANG ADA DIDUKUNG OLEH RANCANGAN DAN KALKULASI MATEMATIS YANG TEPAT

3. DIEKSEKUSI DENGAN TEPAT SESUAI PERANCANGANNYA

 

Menjalani usaha redfennec sedikit banyak berkaitan dengan ilmu saya sebagai arsitek, banyak proses desain yang saya dan Leo lewati dimana desain-desain kami untuk para klien direalisasikan melalui teknologi lasercutting. mungkin bila di bidang arsitek saya mendesain bangunan dan ruang, di redfennec kami mendesain suvenir, wedding property dan dekorasi interior serta barang sejenisnya.

 

Kami mengalami hal-hal yang saya utarakan diatas, dimana ada perasaan that glass still half empty, there are still rooms for improvements, mungkin dari dimensi kesempurnaan fungsi taktil dan visual akan selalu ada ruang bagi kami untuk berimprovisasi, begitu pula dengan perancangan matematis yang mendukungnya dibalik layar, namun untuk poin ketiga yaitu eksekusi dengan tepat, kami sangat terbantu dengan lasercutting yang kami miliki dimana mesin kami mampu mengerjakan pekerjaannya dengan sangat presisi dan tepat. lasercutting bagi kami tidak hanya sekedar menjadi sebuah alat untuk memotong, namun menjadi sebuah instrumen khusus dalam menjadi jembatan untuk mengejar dan merealisasikan 'kesempurnaan' para desainer

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Featured Posts

Apa yang Dilihat Konsumen dari Papan Reklame Anda

January 4, 2018

1/4
Please reload

Recent Posts

March 19, 2019

Please reload

Archive
Please reload

Search By Tags